Prabowo Subianto: Strong Leader Melawan Usia



JAKARTA - Dengan tambahan kekuatan dua partai besar, Prabowo Subianto semakin tegap menyongsong perebutan kursi Presiden Indonesia tahun 2024.

PAN dan Golkar yang memutuskan gabung, menjadi amunisi Letjen Prabowo menjadi Presiden Indonesia setelah gagal empat kali sebagai capres maupun cawapres.

Di usianya yang 72 tahun (kelahiran 17 Oktober 1951), mungkin inilah pertarungan terakhir Prabowo di panggung Pilpres Indonesia. Inilah juga kekuatan terbesar Prabowo menghadapi Anies Baswedan dan Ganjar Panowo.

Bergabungnya PAN dan Golkar, menambah angka-angka dalam berbagai survei yang membuat Prabowo memimpin, baik dari koalisi parpol, elektabilitas, sampai urusan head to head dengan dua capres lainnya.

“Elektabilitas Prabowo Subianto yang masih memimpin nomor satu di seluruh lembaga survei memang berbanding lurus dengan sejumlah persepsi positif publik terhadap dirinya,” kata Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA, Toto Izul Fatah kepada Inilah.com

Dari data yang tepotret di survei LSI Denny JA misalnya, Prabowo dianggap sebagai capres yang memilik karakter strong leader. Yaitu, sebuah karakter positif yang dibutuhkan mayoritas publik kedepan, terutama dalam mengatasi masalah kesulitan ekonomi.”Persepsi itu terbangun karena Prabowo dianggap memiliki latarbelakang militer yang kuat,” ungkapnya.

Latarbelakang militer ini, disatu sisi juga memberi nilai plus buat Prabowo karena dianggap sebagai sosok yang memiliki nasionalisme yang tidak diragukan. Dan ini juga yang membuat Prabowo dalam posisi diuntungkan sebagai figur penengah yang bisa diterima baik kelompok kanan maupun kelompok kiri.

“Sehingga, jika terjadi Pilpres dua putaran, Prabowo lebih punya peluang untuk menang, karena baik pendukung Ganjar maupun pendukung Anies, jika salah satunya kalah, maka pemilihnya akan banyak lari ke Prabowo,” bebernya.

Jika yang terjadi Prabowo vs Ganjar, maka pemilih Anies akan banyak memilih Prabowo, Begitu juga jika Prabowo vs Anies, maka pemilih Ganjar akan banyak lari ke Prabowo.

Namun, yang menarik, karakter strong leader yang terbangun dan terasosiasi kepada Prabowo itu tak mengurangi karakter positif yang sedang dibangunnya, yaitu lebih humanis dan merakyat.Bahkan, dalam beberapa kasus Prabowo dianggap lebih sipil dari capres lain yang berlatar belakang sipil.

Padahal, selama ini, karakter itulah yang dianggap sebagai salah satu kekurangan Prabowo, yaitu kaku dan kurang merakyat karena terlalu dominan strong leader-nya. Belakangan, Prabowo sudah mampu menyatukan dua katakter yang tegas itu dengan katakter lainnya yang lebih humanis. Lihat saja saat Prabowo menyapa emak-emak yang sedang menggendong anaknya.

“Gaya personal dia yang dulu menggebu-gebu, yang suka katakanlah marah-marah sekarang lebih slow, lebih santai, lebih santun. Itu kampanye yang menurut saya bagus dari Prabowo merubah sikap, attitude, perilaku dan itu dampak positif bagi Prabowo,” terang Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) Ujang Komarudin kepada Inilah.com.

Hampir sudah menjadi tradisi dan trademark dari Prabowo yang selalu memberinya hormat dan merangkulnya dengan tidak canggung. Begitu juga saat Prabowo berjumpa dengan orang yang lebih tua selalu memberinya hormat. Hal inilah yang membuat Prabowo hari ini sudah jauh berbeda dengan Prabowo sebelumnya yang hanya kuat persepsi strong leader-nya.

Diluar soal persepsi terhadap karakternya, Prabowo juga dinilai lebih unggul dari capres lainnya, karena dia sudah mengantongi modal sosial berupa tingkat pengenalan yang lebih tinggi dari capres lainnya, yaitu sudah diatas 80 persen.

Hal ini, antara lain, karena Prabowo sudah beberapa kali ikut berkontestasi dalam Pilpres sebelumnya. Tingkat pengenalan itu, selama ini dianggap sebagai salah satu hukum besi pertama orang untuk memilih. Rumusnya, makin dikenal akan makin punya peluang untuk dipilih.

Dan semakin kecil pengenalan, semakin kecil juga peluangnya untuk dipilih. Meskipun, tingkat pengenalan tak selalu harus berbanding lurus dengan kesukaan yang berujung pada elektabilitas.

Ditambah pengalamannya di pemerintahan selama ini, akan jadi pelengkap pemahaman Prabowo dalam mengidentifikasi persoalan bangsa ke depannya”Beliau sarat pengalaman dalam memimpin, memiliki ketegasan, kecerdasan dan hubungan yang luas,” kata Waketum Partai Gerindra Habiburrokhman kepada Inilah.com.

Tapi yang terpenting, pak Prabowo adalah sosok Pemersatu bangsa. Sikap besar hatinya mau bergabung dengan pemerintahan Jokowi adalah bukti kongkrit bahwa Prabowo adalah orang yang mengedepankan persatuan demi kepentingan bangsa dan negara.

“Beliau salah satu sosok yang sangat ikhlas, mengedepankan kepentingan besar kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi beliau. Ini memang track record beliau sejak lama,” tandasnya.

Prabowo Juga Manusia

Meski dengan sederet kekuatan dan keunggulannya sebagai capres 2024, Prabowo tetaplah manusia, yang punya kekurangan. Di antara dua capres lainnya, Prabowo-lah yang paling tua. Pesaing-pesaing Prabowo di pilpres sebelumnya, sudah turun gelangang, bekerja dari balik layar.

“Mungkin soal usia ya, usia sudah senior, itu menjadi salah satu mungkin kekurangan yang sedikit, karena pemilihnya pemilih muda, pemilih milenial, yaitu menjadi kekurangan,” terang Ujang.

Memang ada contoh lain soal capres tua yang berhasil menang. Seperti Mahathir Mohamad di Malaysia, serta Joe Biden di Amerika Serikat. Namun tak cukup banyak yang bisa dijadikan contoh diantara banyak negara yang memilih pemimpin muda untuk menjadi presidennya.

Dalam kontestasi politik Indonesia, Prabowo akan melawan Ganjar Pranowo dan Anies Baswedan yang usianya sama-sama 54 tahun. Bisa jadi isu umur bakal jadi ‘jualan politik’ di pilpres nanti.

Meskipun, tingkat pengenalan yang tinggi dari Prabowo itu bisa menjadi kelemahan jika tidak diimbangi dengan kemampuan mengemas dirinya dengan aneka program positif yang bisa menambah elektabilitasnya. Terutama, pada saat capres lain sudah mampu melampaui, minimal menyamai tingkat popularitas Prabowo.

Dalam konteks itu, Ganjar dan Anies masih punya waktu yang cukup untuk mendongkrak baik popularitas maupun elektabilitasnya. Inilah mungkin warning pertama buat Prabowo jangan sampai terlena dengan posisinya, karena salah satu yang membuat dia lebih unggul adalah memiliki tingkat pengenalan yang lebih tinggi dari capres lain.

Tapi begitu, populalritasnya sama, bukan mustahil capres lain bisa menyalipnya.

“Tetapi kan kita tahu hasil survei Prabowo tinggi di kalangan milenial 40,5 persen begitu. Artinya usia itu yang menjadi kelemahan sekaligus juga keberuntungan lah kira-kira begitu,” terang Ujang.

Salah satu hal lain yang masih menjadi “PR” besar Prabowo adalah menjawab aneka tudingan miring yang kerap dilakukan lawan-lawan politik sebagai negatif campaign belakangan ini. Misalnya, soal isu HAM, isu food estate dan lainnya.

Isu HAM misalnya, saban pemilihan presiden yang menempatkan Prabowo sebagai salah satu kandidatnya, isu ini selalu muncul dengan narasi miring ‘jangan pilih capres pelanggar HAM’. Meski pemilih semakin cerdas dalam mencerna informasi, narasi-narasi negatif tentang Prabowo harus bisa diselesaikan dengan data agar pemilih tidak goyah.

“Sejauh yang terpotret di survei, mayorutas publik tak mempersoalkan usia. Sejauh usia itu diimbangi dengan kesehatan. Sehingga bisa tetap tampil prima dan dengan suara yang tetap lantang,” terang Toto Izul Fatah.

Seperti ucapan almarhum Presiden Gus Dur yang dilontarkan kepada sepupunya Irfan Yusuf saat ziarah ke Tebu Ireng,”‘Pak Prabowo nanti jadi presiden nek wes tuwek,” kata Gus Irfan menirukan Gus Dur.

0 Komentar